EAT

Senin, 06 November 2017

SEKOLAH INKLUSI

Assalamualaikum..


Senangnya, bisa memberi semangat kepada rekan-rekan guru untuk sama-sama belajar menulis. Kali ini, Aku dan Kepala Unit SD Lazuardi Cordova meminta kepada guru-guru untuk menulis tentang sekolah Inklusi. Mereka cukup antusias. Aku pilih yang sesuai kriteria dari isi dan kepenulisannya.


Aku tampilkan hasil tulisan dari Rekanku yang bernama Ms Maria Ulfa. Tahun lalu Aku pun sempat menulis cerita tentang dia yang sudah lama menanti buah hati. Puji syukur, Allah telah mengamanahkan putri yang cantik yang kelak menjadi anak yang sholehah dan menjadi kebanggaan buat kedua orangtuanya. Semoga bermanfaat 

***

SEKOLAH INKLUSI- MENELADANI  RASULULLAH DALAM  MENDIDIK ANAK


Tepatnya awal tahun 2012 pertama kali aku mendengar kata inklusi.  Saat itu aku mencoba melamar pekerjaan ke sebuah lembaga pendidikan, Yang sebelumnya tak pernah terpikir olehku akan terjun ke dunia pendidikan, mungkin sudah kehendak Allah Aku  diarahkan untuk belajar di Lazuardi Cordova . Dari Lembaga pendidikan Lazuardi Cordova inilah aku mengenal istilah inklusi. Inklusi yang mungkin bagi beberapa orang (termasuk aku saat itu) awam mendengar kata tersebut. yaa di Lazuardi yang sampai saat ini tempatku belajar dan mengajar menerapkan pendidikan inklusi. Bagi ku sekolah inklusi termasuk salah satu sekolah yang spesial, termasuk orang-orang yang berada di dalam  pendidikan inklusi, karena tidak semua sekolah dapat menerapkan pendidikan inklusi tersebut.  
Apa sih pendidikan inklusi? Dari beberapa refensi hasil contekan di mbah google, dapat disimpulkan pendidikan inklusi adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menyatukan anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal pada umumnya untuk belajar.
Yaa.. karena anak yang berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dengan anak pada umumnya dalam kesempatan mendapat pendidikan yang layak dan terbaik. Pendidikan merupakan hak semua warga negara tanpa memandang status sosial, ras, etnis, suku dan bangsa, termasuk anak berkebutuhan khusus. Di Islam pun dalam fikih ada keringanan tersendiri bagi orang yang berkebutuhan khusus yaitu ada kemudahan dalam menjalankan setiap kewajibannya. Seperti wudhu, bagi tuna netra dibolehkan tayamum. Dan seperti sholat bagi orang berkebutuhan khusus atau sakit bisa sholat dengan duduk atau bahka jika tidak mampu duduk dengan berbaring.

Semua yang berada dalam lingkungan sekolah yang memakai pendidikan inklusi harus saling belajar  bekerjasama dan berperan aktif dalam tercapainya pendidikan inklusi yang sesuai harapan,  baik guru, teman, terapis khususnya, bagian umum dan civitas yang ada di sekolah tersebut. Memanglah tidak mudah, namun jika ada kerjasama yang baik oleh semua pihak insyallah akan berhasil baik untuk anak berkebutuhan khusus maupun yang normal.
Dan sedikit mengambil kata-kata pak Munif Chatib setiap institusi sekolah di dalamnya ada manusia. Proses belajar mengajar akan berhasil apabila di lakukan secara manusiawi. Sekolahnya manusia memotret keragaman gaya belajar para siswanya lalu guru mampu masuk dalam dunia siswanya. Proses inilah yang mempunyai nilai seni tinggi.
Alhamdulillah di sekolah tempatku belajar dan mengajar selain mengikuti pendidikan inklusi, guru-guru juga dituntut mengajar dengan cara yang menyenangkan.
Karena memang dalam Islam Rosulullah pun telah mencontohkan bagaimana cara mendidik anak, ada 4 cara Rosulullah mendidik anak yaitu:

1.      Tidak pernah memarahi anak –  anak.
2.       Bersabar dalam menghadapi dan dalam mengajar.
3.      Mengajar dengan cara yang menyenangkan.
4.      Dengan lebih dahulu mengajarkan (mencontohkan).

Dari pendidikan inklusi ini tidak hanya anak yang berkebutuhan khusus yang diuntungkan, bagi anak yang normal keberadaan anak-anak dengan kebutuhan khusus ini ternyata juga memberikan dampak positif pada anak-anak lainnya. Yaitu, mereka akan belajar perbedaan, dapat tumbuhnya kasih sayang dan rasa empati, pengertian kepada teman-teman spesial mereka ini. Hal ini sangat posistif dan akan sangat bermanfaat bagi kesuksesan hidup mereka kelak.
Tidak hanya anak-anak, akupun pribadi dari sekolah tempatku bekerja, aku  belajar banyak hal baru, mulai dari sosial emosi, dunia pendidikan dan berbagai pengalaman baru. Di tahun ke 5 aku bekerja di Lazuardi, Tepatnya saat ini lebih mensyukuri dengan lingkungan kerja yang aku jalani saat ini. Aku ingin terus belajar dari anak-anakku, teman-temanku dan lingkunganku. Semoga rasa syukur, empati, dan kasih sayang  yang tumbuh dilingkungan inklusi ini , akan tumbuh juga di diri anak-anakku kelak.

Aamiin. semoga bermanfaat 

Aku, Miss Ulfa dan Siswa Pra-TK 😍😍


Tidak ada komentar:

Posting Komentar